ukhuwah nan indah                      

Thursday, September 28, 2006

Kepikiran

Aq tuh masih kepikiran sama tulisannya ghaida azzahra. Kok bisa ya dia nulis begitu? Kok dia begitu benci dengan kami sehingga dia enggan mengikuti acara akhwat yang lain. Dan berjuta2 pertanyaan kok bisa ya hadir dikepala ku berputar2….seakan membentuk bintang2…puyeng euy…:(

Ada beberapa teman yang menyarankan ga usahlah diriku memikirkan hal ini…masih banyak hal yang lain yang perlu dipikirkan….memikirkan masalah ini dan mencoba mencari kejelasan malah akan memperpanjang masalah, selama nama2 yang ada masih tetep pake nama palsu, qt ga akan tau siapa dia yang sebenarnya….buang energi aja…masih banyak amanah yang lain yang harus ditunaikan… gitu katanya. Temanku itu mengingatkan akan agenda yang akan kami laksanakan (kajian muslimah) kami akan membuktikan kalo kami tak seperti sangkaannya…..mudah2an Allah memudahkan urusan kami…amin….Hm….bukan aq namanya kalo ga penasaran :D, aq Cuma mau nulis uneg2 yang ada dihatiku aja kok (boleh kan say ;) )

Ku coba mengingat ulang kejadian di at ta’awun….dimana dia bilang pertama kali ikutan gathering akhwat myq. Ku coba menyusuri nama2 yang pernah ikutan acara tsb…mencoba mengingat kembali apa ada akhwat yang kecewa pada hari tsb…and…jawabannya nihil…ga berhasil kutemukan :( siapakah gerangan dirimu ghaida? Yang ku sesalkan kenapa dirimu tidak langsung saja memberikan nama aslimu kepadaku….

Dirimu pernah komentar diblog kalo pernah digosipin oleh akhwat2 myq..pernah ngomongin ke mereka tapi ga ada hasilnya (katamu) . sungguh…sampai saat ini kami merasa belum pernah ada satupun yang komplain ke kami….jujurlah padaku ghaida….kepada siapa sesungguhnya engkau mencoba bicara?

Aq sama sekali ga bisa melupakan tulisanmu yang : “Sejak itu mulai menghindari mereka, karna terlalu tajamnya lidah mrk, dulu kagum pertama kali ke mrk, tp sejak itu kecewa sama mrk.”

Kenapa ukhti? Kenapa anti bisa berfikir seperti itu? Bukankah qt saudara? Tolong ingatkan kami jika kami keluar jalur dan koridor..bukankah ukhuwah yang didasari ilallah itu indah?

sungguh…kami mohon maaf jika ada salah kata dalam ucapan dan tindakan kami yang membuat anti kecewa pada kami….pasti dalam berukhuwah wajah tak selalu cerah, tutur tak selalu ramah, mungkin ada mohon maaf atas segala khilaf karna kami hanya manusia yang tak luput dari salah dan dosa….

semua acara yang diadakan itu kami niatkan tuk mendapatkan ridhoNya..cukuplah Allah, Rasul dan Orang2 beriman saja yang menilai kita…..insya allah tak ada kata sia2 dari pertemuan2 yang lalu….tujuan kita untuk silaturahim dan menggapai ridhoNya…bukan untuk memecah belah, bukan untuk mencari musuh..sekali lagi….maafkan atas lisan2 kami yang sengaja atau tidak sengaja membuat anti/antum tersakiti….maafkan atas tindakan kami yang menuai emosi,maafkan…..maafkan atas semuanya….sungguh..manusia itu gudangnya salah dan khilaf….

-yang masih mencoba mencari tau siapa dirimu-

Wednesday, September 27, 2006

Engkau adalah pilihan…

Dear... Ikhwah Fillah di bumi Allah. Apa kabar? Bagaimana keadaanmu hari ini, apakah sama seperti hari kemarin? Aku berharap keadaan antum hari ini lebih baik dari hari kemarin. “Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin.” Adalah sebuah motto yang sedah diketahui semua orang.

Juga kalimat berikut ini yang sangat antum kenal “Merugilah orang yang yang hari ini sama dengan hari kemarin. Namun apakah antum sudah pernah menelaah lebih lanjut, apa maksud dari kalimat tersebut? Bagaimana dengan hari-hari antum sekalian? Sudahkah kita samakan visi dan misi kita di jalan dakwah? Jawabannya ada dihati antum sekalian.

Betapa jalan dakwah itu penuh dengan duri, dan ujian itu adalah tarbiyah dari Allah. antum semua mungkin sudah tahu itu. Namun apakah kita semua sudah pernah menyelami bahwa medan dakwah saat ini sangat membutuhkan keikhlasan tangan-tangan budi pekerti dari antum sekalian.

Tugas dakwah sangat membutuhkan keistiqomahan antum sekalian untuk melanjutkan perjuangan ini. Karena perjuangan takkan pernah berhenti sampai Allah mengumpulkan kita di Yaumil Akhhir nanti.

Ikhwah Fillah… Betapa saaat ini, banyak lahan dakwah di sekitar kita yang menunggu rangkulan hangat kita, menunggu untuk dibina O/ antum sekalian.Demi terwujudnya menyarakat Indonesia yang menjalankan Islam secara kaffah. Betapa cita-cita luhur para pendahulu kita, para pendiri negara menginginkan agar kewajiban menjalanakan syariat Islam bagi para pemeluknya terealisasi dlm kehidupan sehari-hari.

Namun bagaimana sekarang ini? Bagaimana pula dengan tugas-tugas antum sekalian? Sudahkah antum ikut ambil bagian dalam melanjutkan cita-cita itu hari kemarin dan hari ini?

Tanyakan dalam diri antum sekalian mulai sekarang. Detik ini juga kita harus yang menjadi nomor satu untuk ikut andil dlm menciptakan masyarakat Islami.

Source :PK Sejahtera Jaksel

Thursday, August 10, 2006

Kangen

Kangen itu wajarkan?

Semakin banyak dan sering aku merajut tali ukhuwah semakin bertambahlah teman dan saudaraku :)

Akhir2 ini aq sibuk banget dengan rutinitas pekerjaanku…

Melelahkan :( dengan kondisi yang ga begitu fit ini aq berusaha untuk mengerjakan tugasku dengan baik….

Bisa dikatakan komunikasiku dengan orang2 terdekat…terputus :(

Hiks,…sedih dan kangen yang kurasakan..

Biasanya aq menggunakan media sms tuk say halo dengan orang2 yang lama ga kutemui..

Tapi apalah daya…pulsaku sekarang habis..lum diisi lagi…

Aq bukannya nga mau nelpon..dirumah tlpku dikunci, dikantor dibatasi :( jadi aq ga suka nelpon…biasanya sih aq yang ditlpin :D tapi sekarangpun orang2 yang biasa menghubungiku pun ga ada kabarnya :( mungkin sibuk

Mau ke warnet pun malas yang kurasakan coz myq sering ga bisa diakses, pikirku dibanding kecewa mendingan nga ngenet dulu deh

Dulu…ku kira aq tidak bisa hidup tanpa ngenet

Seminggu ada 3-4 kali aq kewarnet

Sekarang aq nga ngerasakan ‘sensasi’ seperti awal ngenet..:(

Back to kangen

Saat ini aq lagi kangen sama temen2 SMTK, terutama my best friend endah (yang ikut suaminya kesumedang, ike yang lagi hamil muda, dani, upay yang ga ada kabarnya sama sekali)

Kangen sama MyQ..pengen posting diMyQ

Kangen sama penghuni2 lama MyQ..sama postingannya..sama ukhuwahnya…

Kangen sama temen2 Kamja

Kangen sama temen2 lq

Kangen sama bapak

Kangen sama….kangen sama…

Ah..aq sungguh kangen kalian :’(

Semoga Allah selalu menjaga dan akan mempertemukan qt disurgaNya..kelak…


Wednesday, August 09, 2006

Karena ibu selalu memahami saya

Sebuah cerita seorang yang pernah gagal ta’aruf….

“ ibu, saya ditolak lagi…..”

“ hanya oleh sebuah alasan sederhana yang tidak saya mengerti. Mengapa begitu, Bu, mengapa?”” adu seorang anak kepada ibunya. Wajahnya bersimbah air mata.

“sabarlah nak. Mungkin ia memang buka jodohmu” ibunya berkata perlahan. Penuh kasih, ia usap air mata yang terus mengalir di pipi anak gadisnya.

Si anak merebahkan kepalanya dipangkuan ibunda. Dia mencoba mengusir galau yang menyesakkan dada. Dia mencari damai atas batinnya yang terluka. Dia menemukannya disana. Dipangkuan wanita yang melahirkannya. Seperti saat dia kecil dulu, wanita itu yang melindunginya dari segala mara bahaya. Seseorang yang selalu menjaganya dari segala sesuatu yang melukainya, menyakitinya, bahkan dari gigitan nyamuk, dari sengatan panas dan tusukan udara dingin. Setelah dia dewasa pun ibu tetaplah seseorang yang paling ia andalkan. Ibu tetaplah pahlawan perkasanya.

Anak itu, ia sudah sangat ingin berumah tangga. Sudah tak terhitung proses menuju nikah dijalaninya. Namun, semuanya tidak membawanya kepelaminan. Ada yang gagal menjelang detik2 pernikahan. Ada yang sudah tidak cocok diawal. Ia sendiri tidak yakin apakah kegagalan-kegagalannya menuju pelaminan adalah sebuah kesalahan atau karena takdir yang belum menemukan jawaban.

Yang dia tahu, selama ini ia tidak neko-neko. Dia hanya ingin menggenapkan separuh diennya….dia hanya merindukan berbakti dalam rumah tangga…bukan sesuatu yang muluk. Oleh karena itu, ia tidak pernah memasang criteria tinggi, sepanjang laki-laki itu sholih dan berakhlak baik. Namun siapa yang dapat menahan jika jodoh itu belum ada untuknya??

Ibunya pun tak banyak memberikan persyaratan. Karna ia adalah wanita desa yang sangat bersahaja sehingga tidak banyak meminta. Ketika seseorang yang hendak menikahi anak gadisnya adalah seorang laki-laki shalih, berakhlak baik dan bekerja secara halal. Dia tidak pernah mempertanyakan bobot bibit bebet, pun status social laiinya dan dia juga tidak berpaku pada suku tertentu.

Bukan karena ibunya sudah patah arang padanya yang selalu gagal dalam proses menemuka pasangan, Bukan ! Bukan pula karena ibunya sangat menginginkan dia menikah sehingga dia menerima siapa saja tanpa pandang bulu asal anaknya menikah. Bukan…sama sekali bukan karena itu.

Akan tetapi semua itu karna ibunya (ia sadari kemudian) yang sederhana ternyata berfikiran sangat maju. Ibu tidak terlalu kaku dengan bibit bebet bobot karna menurutnya setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bukan bagaimana orang tuanya atau lingkungannya. Bukankah keimanan tidak dapat diwariskan? Sebagaimana kejahatan juga buka gen yang menurun? Begitu alasan beliau.

Ibu juga tidak memandang suku. Ketika banyak orang tua lain masih sangat mempertimbangkan turunan dari menantunya. Beliau bahkan juga rela jika anaknya hidup jauh dari tanah kelahiran mereka. Yang ibu minta Cuma satu. Seorang lelaki shalih agar dapat membawanya ke jalan syurga. Seseorang yang tepat untuknya agar mereka bisa seiring sejalan.

“nak, ibu selalu berdoa agar engkau mendapatkan pasangan yang pas untukmu. Seorang yang shalih dan sepadan denganmu. Ibu selalu berdoa agar Allah memilihka yang terbaik dan paling tepat untukmu” itu yang selalu ibu pesankan kepadanya. Ia peecaya, itu juga yang tak bosan2 dipinta ibu pada Allah dalam sholat2 beliau.

Satu hal berharga yang ia peroleh dari semua itu. Ia sungguh beruntung memiliki ibu yang baik. Ibu menjadi sumber kekuatannya menjalani masa-masa sulit ini. Walaupun dia harus berulang kali gagal menikah, keberadaan ibu yang demikian membuatnya tegar.

Setidaknya kondisinya jauh lebih baik disbanding dengan beberapa teman seusianya yang juga belum menikah. Banyak teman2nya yang lajang berusia matang didesak oleh keluarga amengakhiri kesendiriannya. Semua menuntut dan mendesak, tanpa perduli perasaan yang bersangkutan. Dia tahu, dia sangat merasakan betapa pedihnya rasa mereka. Dia bisa mengerti, betapa sulit posisi mereka. Mereka bukannya tidak mau menikah, mereka bukannya tidak ingin menikah. Namun bagaimana lagi jika kondisi belum memungkinkan? Kalau si belahan jiwa belum datang, mereka harus berbuat apa?

Mereka sendiri membutuhkan dukungan dan pengertian disaat seperti itu. Hiks…betapa merananya wanita2 itu, mereka harus berdamai dengan perasaan sendiri sambil harus tetap tegar dan tabah menghadapi recokan keluarga dan sekelilingnya.

Oleh karna itu gadis itu merasa sangat sangat beruntung memiliki ibu yang pengertian. Ibunya bukan tidak pernah mendesak atau menyuruhnya menikah…pernah, namun saat dia berkonsultasi tentang proposal2 yang datang padanya atau saat dia bercerita tentang beberapa kegagalan prosesnya, ibu selalu bisa dan mau mengerti.

Pernah dia mengiba dipelukan ibunya, saat seorang laki2 yang pernah melamarnya tiba2 pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Ya, laki2 itu pergi begitu saja tanpa pernah memberi tanda. Hanya pergi, kemudian ia mengirimkan sepucuk undangan.

“ ibu, saya tidak sanggup. Saya mencintainya. Ternyata dia menempati lebih dari separo sisi batin saya. Ternyata ia pergi membawa nyaris seluruh cinta saya bersamanya. Saya tidak sanggup menerima orang lain dalam kondisi seperti ini”

saat itu, ibunda hanya memeluknya erat-erat! Ibu memberinya kekuatan, melindunginya, mengalirkan segenap kasih. Seakan dia ingin mengatakan bahwa ada yang akan selalu mencintainya, bahwa tidak perlu seterluka itu kehilangan sang pangeran…karena ibu akan selalu mendampinginya, karena ibu akan merelakan segala baginya, karna ibu tidak akan rela dia disakiti meski sedikit saja.

Oleh karna itu, mengapa pula ia harus rapuh menghadapi kegagalan demi kegagalan? Atas alasan apa ia mesti sedih atas belum datangnya pasangan hidup? Tidak! Tidak! Dia ingin dan akan tegar !. Dia ingin dan akan berani menjalani hidup ini, mencoba lagi, dan lagi Ada ibu, yang akan menemani, mencintai selalu! Ibu ada disisinya, sampai saat yang ditentukan itu tiba.

Catatan mba azi dengan sedikit perubahan ^_^

Friday, August 04, 2006

Persiapan nikah

Kebingungan yang sangat pernah saya alami waktu diminta membuat biodata oleh guru ngaji saya. Meskipun saya suka sekali baca buku dan artikel tentang keluarga namun ketika diminta membuat suatu rumusan tentang keluarga yang saya harapkan, saya menjadi ragu dengan kesiapan saya. Meskipun kesiapan adalah sebuah proses, ia tetap harus benar-benar disiapkan. Dan saya bukannya ingin membicarakan tentang kesiapan saya, hanya ingin berbagi tentang persepsi sebuah pernikahan :)

Bagi saya, pernikahan adalah salah satu anak tangga dalam meniti puncak keimanan. Saya menginginkan pernikahan yang mampu membawa kami, keluarga dan lingkungan yang beriman kepadaaNya.

Saya pernah mendapat pertanyaan seperti ini dari seorang adik kelas, “ mba…entar pasti pengennya nikah sama ikhwan juga ya?” aq jawab dengan berseloroh, “ ya iya-lah..masa mau nikah sama akhwat>” hehe he usil ya ;)

Tentang soal itu, saya yakin dengan keMaha Tahuan Allah tentang kondisi hambaNya. Allah tidak pernah keliru memberikan “ menu” sesuai dengan “porsi” hambaNya, dengan ikhwan atau bakwan :D hanya Allah yang tau yang terbaik bagi qt. Bukan masalah ketika istri/suami mempunyai wawasan agama yang agak tertinggal dari qt, karna pada hakekatnya tentang sebuah pernikahan itu didalamnya ada fungsi belajar, saling menguatkan dan memberikan dukungan.

Tapi menurut saya tidaklah salah juga ketika seseorang menentukan kriteria untuk suami/istrinya nanti dengan analisa psikologis dan kondisi pribadi. Dia menginginkan menikah dengan ikhwan atau bakwan dengan akhwat atau bukan, dengan yang mempunyai karakter seperti apa dan dengan seseorang yang bagaimana.

Secara hitungan pernikahan, satu tambah satu bukan dua, tetapi tiga, empat, lima dan banyak :D penganalogian ini tidak ada kaitannya dengan konsep biologi loh :D Maksud saya ketika dua keimanan bersatu, seharusnya mampu memberikan pengaruh ke-islaman yang lebih besar, dimulai dengan memberikan pengaruh kepada keluarga inti, melebar ke keluarga besar dan hingga akhirnya mampu memberi pengaruh pada masyarakat. Kesalehan pribadi mewujud menjadi kesolehan keluarga, hingga menular menjadi kesolehan sosial.

Pernikahan juga merupakan organisasi yang rumit dan kompleks, membagi peran dalam keluarga bukan hal yang mudah, kalo kita mau me-list pekerjaan keluarga akan kita dapati sederet pekerjaan yang tidak sedikit. Saya tidak setuju dengan pembagian bahwa laki-laki mengerjakan tugas publik dan perempuan dirumah mengerjakan pekerjaan domestik. Bukan berarti saya menyepakati sebagaimana yang menjadi tuntutan kaum feminis yang menuntut kebebasan yang menurut saya sering tanpa analisa :( aktualisasi diri bagi seorang perempuan sangat diperlukan, memberikan kontribusi terhadap ummat adalah juga kewajiban. Bagaimana kita akan mampu mendidik generasi unggul tanpa tahu bagaimana kerasnya dunia luar sana. Namun hendaknya ketika seorang perempuan menentukan untuk berperan diluar rumah (peran sosial, politik, profesi maupun peran lainnya) kondisi keluarga harus dalam perhitungannya. Fungsinya terhadap suami, apalagi ketika suami selain melakukan peran publik yang berhubungan dengan kewajibannya atas pemenuhan nafkah keluarga juga melakukan fungsi dakwahnya, jangan sampai kegiatan diluar istri malah melunturkan kinerja suami.

Penyediaan kenyamanan suasana rumah, menjadi telaga bagi suami, memberikan kasih sayang, cinta, perhatian dan support yang mungkin sangat diperlukan. Kebutuhan anak juga harus diperhatikan (kebutuhan akan kasih sayang, fungsi pendampingan, pendidikan dan lain-lain yang menyangkut ruhy, fikriyah dan jasmani si anak)

Ketika seorang istri memutuskan untuk mengambil peran diluar rumah, maka suami juga sebisa mungkin memberikan dukungan. Tidak ada salahnya ketika seorang suami mempunyai waktu luang dan dia bisa mengerjakan pkerjaan rumah tangga :) hal seperti itu bukannya tabu untuk dilakukan kan :)

Hm…..pernikahan bagi saya adalah sebuah laboratorium kehidupan yang sangat lengkap, disana saya membayangkan akan bisa belajar banyak hal. Ilmu psikologi, ilmu bagaimana mendidik anak, ilmu komunikasi, ilmu memasak, ilmu ekonomi (ketika memanajemen keuangan rumah tangga) juga ilmu teknik (saat kita terpaksa harus membetulkan peralatan rumah tangga, lampu misalnya) dan ilmu –ilmu lainnya.

Special to saudaraku yang kan menikah

Adit dan emi….barakallah ya…met mengitung hari ;)

Tuesday, June 06, 2006

menjadi seorang sahabat

Ada satu perbedaan antara menjadi seorang kenalan dan menjadi seorang sahabat. Pertama, seorang kenalan adalah seorang yang namanya kau ketahui, yang kau lihat berkali-kali, yang dengannya mungkin kau miliki persamaan, dan yang disekitarnya kau merasa nyaman. Ia adalah orang yang dapat kau undang ke rumahmu dan dengannya kau berbagi. Namun mereka adalah orang yang dengannya tidak akan kau bagi hidupmu, yang tindakan-tindakannya kadang-kadang tidak kau mengerti karena kau tidak cukup tahu tentang mereka.

Sebaliknya, seorang sahabat adalah seseorang yang kau cintai.. Bukan karena kau jatuh cinta padanya, namun kau peduli akan orang itu, dan kau memikirkannya ketika mereka tidak ada. Sahabat-sahabat adalah orang dimana kau diingatkan ketika kau melihat sesuatu yang mungkin mereka sukai, dan kau tahu itu karena kau mengenal mereka dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang fotonya kau miliki dan wajahnya selalu ada di kepalamu. Mereka adalah orang-orang yang kau lihat dalam pikiran mu ketika kau mendengar sebuah lagu di radio karena mereka membuat dirimu berdiri untuk menghampiri mereka dan mengajak berdansa dengan mereka atau mungkin kau yang berdansa dengan mereka, mungkin mereka menginjak jari kakimu, atau sekedar menempatkan kepala mereka di pundakmu. Mereka adalah orang-orang yang diantaranya kau merasa aman karena kau tahu mereka peduli terhadapmu. Mereka menelpon hanya untuk mengetahui apa kabarmu, karena sahabat sesungguhnya tidak butuh suatu alasan pun.

Mereka berkata jujur-pertama kali - dan kau melakukan hal yang sama. Kau tahu bahwa jika kau memiliki masalah, mereka akan bersedia mendengar. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menertawakanmu atau menyakitimu, dan jika mereka benar-benar menyakitimu, dan jika mereka benar-benar menyakitimu, mereka akan berusaha keras untuk memperbaikinya. Mereka adalah orang-orang yang kau cintai dengan sadar ataupun tidak. Mereka adalah orang-orang dengan siapa kau menagis ketika kau tidak diterima di perguruan tinggi dan selama lagu terakhir di pesta perpisahan kelas dan saat wisuda.

Mereka adalah orang-orang yang pada saat kau peluk, kau tak akan berpikir berapa lama memeluk dan siapa yang harus lebih dahulu mengakhiri. Mungkin mereka adalah orang yang memegang cincin pernikahanmu, atau orang yang mengantarkan / mengiringmu pada saat pernikahanmu, atau mungkin adalah orang yang kau nikahi. (dudung.net)

Saya Adalah Ibu Rumah Tangga

Oleh: Lizsa Anggraeny

Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order, meeting supplier, incoming inspection... Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan, saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu rumah tangga. Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier; sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan rumah.

Ibu rumah tangga adalah profesi yang saya geluti semenjak berhenti kerja dari sebuah perusahaan. Saya menyebutnya profesi karena memang pekerjaan rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di perusahaan saya hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian yaitu general affair saja, ternyata di rumah tugas saya tidak hanya mentok di satu bagian. Di sini saya wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai semua bagian. Yang semuannya nanti harus dilaporkan pada presiden direktur yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Allah swt.

Pertama kali berhenti bekerja dan menjalani perkerjaan sebagai ibu rumah tangga, sepertinya ada perasaan tidak betah dan malu untuk mengakui. Mengingat selama ini dalam benak saya telah terpatri pikiran bahwa menjadi wanita karir lebih baik dibandingkan ibu rumah tangga. Ternyata, setelah benar-benar terjun fulltime menjalani pekerjaan rumah tangga, pikiran saya berubah total. Pekerjaan yang semula saya anggap remeh ini ternyata tidak sesederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya.

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan perangkat kasar berupa tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya yang diperlukan untuk mencuci, menyetrika, bebenah rumah. Tetapi dibutuhkan pula perangkat lunak berupa kelihaian sang otak dalam mengatur keuan

Tuesday, May 02, 2006

Kala Tanya Menggugat [Tanya kenapa :D]

Suatu ketika saya menerima telepon dari seorang adik
“ mba, gimana kabarnya? Aku kangen deh sama mba….” suara khasnya menyapaku di horn telepon

“alhamdulillah baik, jawabku, “kamu sendiri gimana?”

“alhamdulillah, eh aku udah punya anak loh mba”

kemudian dia cerita tentang pernikahannya diusia muda. Seru juga ceritanya. Tak lama dia menanyakan “ mba sendiri gimana, udah punya anak belum?”

aku tertawa aja “ sudah, anak kucing!” tawaku mengeras, “ nikah aja belum dek, punya anak dari siapa?” aku tersenyum

“wah,……mba belum nikah?! Aku aja udah mau punya anak dua, gimana nih mba. Mestinya anak mba udah lebih banyak dari aku”

aku kembali tertawa. Getir

“kenapa sih mba belum nikah?”

kenapa? Lagi-lagi aku hanya tertawa, kemudian memberikan jawaban klise, pangerannya masih disimpen Allah; Allah belum memberi izin’ sudah ikhtiar, tetapi semuanya ketentuan Allah.

“ ayu mba, cepet nikah!ntar kebalap terus lho sama yang lebih muda!”

kembali aku tersenyum dan mengucap istighfar…dalam hati…..

------

sebagai wanita yang lajang, dengan usia yang “krisis”, pertanyaan dan sering kali komentar yang cenderung memojokkan banyak menghampiri. Ada seorang kawan yang begitu sedihnya ketika mengalami kejadian seperti diatas. Bercerita kepada saya

“saya tidak habis pikir, dia kan tau saya belum nikah dan usia saya sudah menjelang 33. Tapi kok dia ngak ‘sensi’ banget bilang seperti itu. Memang dia yang mengatur jodoh?”

saat ini, saya hanya bisa menyabarkan dirinya. Saya katakan untuk tersenyum saja bila dipojokkan, bisa jadi orang tersebut memang tidak bermaksud demikian. Always husnudzon aja..jadikan hal itu sebagai bahan muhasabah kita….

Banyak orang yang memang cenderung kurang peka bila pembicaraan mengarah pada hal sensitive buat wanita yang masih single. Ungkapan2 yang halus kayak “ kapan niy nyebar undangan?” sampai yang cenderung memojokkan bahkan kasar kayak

“ wah, kok usianya sudah segitu belum nikah juga? “

“…makanya mba, nikah biar tahu gimana kehidupan suami istri….”…..ucapan2 itu berasal dari keluarga, teman bahkan tetangga.

Kadang aku juga merasa ngak enak bila disudutkan seperti itu, tapi ngak enaknya Cuma sedikit karna aku lagi belajar muka tembok :D hehehehe

Alhamdulillah, sekarang aku merasa lebih kebal meski bukan berarti tidak sedih bila disindir atau disudutkan ( apalagi kalo lagi ngak mood ). Aku berusaha belajar mengendalikan diri sendiri.

Sensitif atau tidak sensitifnya sebuah komentar atau pernyataan orang lain sebenarnya tergantung pada kita sendiri, bergantung pada sudut pandang kita melihat hal tsb.

Kita tidak bisa mengharap orang lain mengerti kondisi kita. Kitalah yang mengendalikan perasaan kita. Bila mengharapkan orang mengerti perasaan kita, kita hanya membangun harapan yang berlebihan dan akhirnya cenderung kecewa, sedih bahkan sebal dan marah bila disindir tenatng menikah.

Daripada menanggapi hal tersebut dengan wajah tertekuk, lebih baik menanggapi dengan senyum :) selain membuat nyaman diri sendiri, kita pun membuat orang lain “nyaman”. Bisa jadi ia akan menyadari bahwa komentar, pertanyaan atau perkataannya tersebut tidak tepat. Coba kalau kita “sensi” kemudian mencak2, selain kita sendiri jadi resah (padahal sudah resah), orang akan memandang kita negative

Kalau mau lebih assertive, bila orang menyindir kita, cobalah ingatkan dengan cara halus sambil bercanda, misalnya “ jangan Cuma nyuruh nikah doang dunk….kasih solusi kongkrit dunk, tawarin gitu ikhwan yang shalih” atau “ doain ya, saya bisa segera menyusul kamu dan merasakan kehidupan berumah tangga” dll
By : dee (catatan muslimah lajang)

For ukhti2 yang masih sendiri……tetap semangat yah……:) insya allah kan qt jelang saat itu…..sooner or later :) yuk qt maksimalkan potensi qt :hugbig:

We will Never Forget

What if Allah couldn't take the time to bless us today because we couldn't take the time to thank Him yesterday?

What if Allah decided to stop leading us tomorrow because we didn't follow Him today?

What if we never saw another flower bloom because we grumbled when Allah sent the Rain?

What if Allah didn't walk with us today because we failed to recognize it as His day?

What if Allah took away the Quran tomorrow because we would not read it today?

What if Allah took away His message because we failed to listen to the messenger?

What if the door of the Mosque was closed because we didn't open the door of our heart?

What if Allah stopped loving and caring for us because we failed to love and care for others?

What if Allah would not hear us today because we would not listen to Him?

What if Allah answered our prayers the way we answer His calls?

What if Allah met our needs the way we give Him our lives?

What if We failed to send this message on?