Sebuah cerita seorang yang pernah gagal ta’aruf….
“ ibu, saya ditolak lagi…..”
“ hanya oleh sebuah alasan sederhana yang tidak saya mengerti. Mengapa begitu, Bu, mengapa?”” adu seorang anak kepada ibunya. Wajahnya bersimbah air mata.
“sabarlah nak. Mungkin ia memang buka jodohmu” ibunya berkata perlahan. Penuh kasih, ia usap air mata yang terus mengalir di pipi anak gadisnya.
Si anak merebahkan kepalanya dipangkuan ibunda. Dia mencoba mengusir galau yang menyesakkan dada. Dia mencari damai atas batinnya yang terluka. Dia menemukannya disana. Dipangkuan wanita yang melahirkannya. Seperti saat dia kecil dulu, wanita itu yang melindunginya dari segala mara bahaya. Seseorang yang selalu menjaganya dari segala sesuatu yang melukainya, menyakitinya, bahkan dari gigitan nyamuk, dari sengatan panas dan tusukan udara dingin. Setelah dia dewasa pun ibu tetaplah seseorang yang paling ia andalkan. Ibu tetaplah pahlawan perkasanya.
Anak itu, ia sudah sangat ingin berumah tangga. Sudah tak terhitung proses menuju nikah dijalaninya. Namun, semuanya tidak membawanya kepelaminan. Ada yang gagal menjelang detik2 pernikahan. Ada yang sudah tidak cocok diawal. Ia sendiri tidak yakin apakah kegagalan-kegagalannya menuju pelaminan adalah sebuah kesalahan atau karena takdir yang belum menemukan jawaban.
Yang dia tahu, selama ini ia tidak neko-neko. Dia hanya ingin menggenapkan separuh diennya….dia hanya merindukan berbakti dalam rumah tangga…bukan sesuatu yang muluk. Oleh karena itu, ia tidak pernah memasang criteria tinggi, sepanjang laki-laki itu sholih dan berakhlak baik. Namun siapa yang dapat menahan jika jodoh itu belum ada untuknya??
Ibunya pun tak banyak memberikan persyaratan. Karna ia adalah wanita desa yang sangat bersahaja sehingga tidak banyak meminta. Ketika seseorang yang hendak menikahi anak gadisnya adalah seorang laki-laki shalih, berakhlak baik dan bekerja secara halal. Dia tidak pernah mempertanyakan bobot bibit bebet, pun status social laiinya dan dia juga tidak berpaku pada suku tertentu.
Bukan karena ibunya sudah patah arang padanya yang selalu gagal dalam proses menemuka pasangan, Bukan ! Bukan pula karena ibunya sangat menginginkan dia menikah sehingga dia menerima siapa saja tanpa pandang bulu asal anaknya menikah. Bukan…sama sekali bukan karena itu.
Akan tetapi semua itu karna ibunya (ia sadari kemudian) yang sederhana ternyata berfikiran sangat maju. Ibu tidak terlalu kaku dengan bibit bebet bobot karna menurutnya setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bukan bagaimana orang tuanya atau lingkungannya. Bukankah keimanan tidak dapat diwariskan? Sebagaimana kejahatan juga buka gen yang menurun? Begitu alasan beliau.
Ibu juga tidak memandang suku. Ketika banyak orang tua lain masih sangat mempertimbangkan turunan dari menantunya. Beliau bahkan juga rela jika anaknya hidup jauh dari tanah kelahiran mereka. Yang ibu minta Cuma satu. Seorang lelaki shalih agar dapat membawanya ke jalan syurga. Seseorang yang tepat untuknya agar mereka bisa seiring sejalan.
“nak, ibu selalu berdoa agar engkau mendapatkan pasangan yang pas untukmu. Seorang yang shalih dan sepadan denganmu. Ibu selalu berdoa agar Allah memilihka yang terbaik dan paling tepat untukmu” itu yang selalu ibu pesankan kepadanya. Ia peecaya, itu juga yang tak bosan2 dipinta ibu pada Allah dalam sholat2 beliau.
Satu hal berharga yang ia peroleh dari semua itu. Ia sungguh beruntung memiliki ibu yang baik. Ibu menjadi sumber kekuatannya menjalani masa-masa sulit ini. Walaupun dia harus berulang kali gagal menikah, keberadaan ibu yang demikian membuatnya tegar.
Setidaknya kondisinya jauh lebih baik disbanding dengan beberapa teman seusianya yang juga belum menikah. Banyak teman2nya yang lajang berusia matang didesak oleh keluarga amengakhiri kesendiriannya. Semua menuntut dan mendesak, tanpa perduli perasaan yang bersangkutan. Dia tahu, dia sangat merasakan betapa pedihnya rasa mereka. Dia bisa mengerti, betapa sulit posisi mereka. Mereka bukannya tidak mau menikah, mereka bukannya tidak ingin menikah. Namun bagaimana lagi jika kondisi belum memungkinkan? Kalau si belahan jiwa belum datang, mereka harus berbuat apa?
Mereka sendiri membutuhkan dukungan dan pengertian disaat seperti itu. Hiks…betapa merananya wanita2 itu, mereka harus berdamai dengan perasaan sendiri sambil harus tetap tegar dan tabah menghadapi recokan keluarga dan sekelilingnya.
Oleh karna itu gadis itu merasa sangat sangat beruntung memiliki ibu yang pengertian. Ibunya bukan tidak pernah mendesak atau menyuruhnya menikah…pernah, namun saat dia berkonsultasi tentang proposal2 yang datang padanya atau saat dia bercerita tentang beberapa kegagalan prosesnya, ibu selalu bisa dan mau mengerti.
Pernah dia mengiba dipelukan ibunya, saat seorang laki2 yang pernah melamarnya tiba2 pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Ya, laki2 itu pergi begitu saja tanpa pernah memberi tanda. Hanya pergi, kemudian ia mengirimkan sepucuk undangan.
“ ibu, saya tidak sanggup. Saya mencintainya. Ternyata dia menempati lebih dari separo sisi batin saya. Ternyata ia pergi membawa nyaris seluruh cinta saya bersamanya. Saya tidak sanggup menerima orang lain dalam kondisi seperti ini”
saat itu, ibunda hanya memeluknya erat-erat! Ibu memberinya kekuatan, melindunginya, mengalirkan segenap kasih. Seakan dia ingin mengatakan bahwa ada yang akan selalu mencintainya, bahwa tidak perlu seterluka itu kehilangan sang pangeran…karena ibu akan selalu mendampinginya, karena ibu akan merelakan segala baginya, karna ibu tidak akan rela dia disakiti meski sedikit saja.
Oleh karna itu, mengapa pula ia harus rapuh menghadapi kegagalan demi kegagalan? Atas alasan apa ia mesti sedih atas belum datangnya pasangan hidup? Tidak! Tidak! Dia ingin dan akan tegar !. Dia ingin dan akan berani menjalani hidup ini, mencoba lagi, dan lagi Ada ibu, yang akan menemani, mencintai selalu! Ibu ada disisinya, sampai saat yang ditentukan itu tiba.
Catatan mba azi dengan sedikit perubahan ^_^